Di langit keenam Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam berjumpa dengan Nabi Musa ‘alaihissalam. Beliau jelaskan, bagaimana ciri fisik rasul terbaik Bani Israil itu. Selain itu, ada beberapa hal menarik yang perlu dibahas pada peristiwa ini. Berikut ini rinciannya.

Ada sedikit perbedaan riwayat tentang siapa yang dijumpai oleh Nabi Muhammad di langit keenam. Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau berjumpa dengan Nabi Musa. Sedangkan di riwayat lain, beliau berjumpa dengan Nabi Ibrahim.

Dalam riwayat al-Bukhari, dari Malik bin Sha’sha’ah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan bahwa yang beliau jumpai di langit keenam adalah Musa ‘alaihissalam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ صَعِدَ بِي حَتَّى أَتَى السَّمَاءَ السَّادِسَةَ فَاسْتَفْتَحَ، قِيلَ: مَنْ هَذَا؟ قَالَ: جِبْرِيلُ. قِيلَ: مَنْ مَعَكَ؟ قَالَ: مُحَمَّدٌ. قِيلَ: وَقَدْ أُرْسِلَ إِلَيْهِ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: مَرْحَبًا بِهِ، فَنِعْمَ المَجِيءُ جَاءَ. فَلَمَّا خَلَصْتُ فَإِذَا مُوسَى، قَالَ: هَذَا مُوسَى فَسَلِّمْ عَلَيْهِ. فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَرَدَّ ثُمَّ قَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ، وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ. فَلَمَّا تَجَاوَزْتُ بَكَى، قِيلَ لَهُ: مَا يُبْكِيكَ؟ قَالَ: أَبْكِي لأَنَّ غُلاَمًا بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي

Kemudian aku dinaikkan menuju langit keenam. Jibril meminta pintunya dibukakan. Penjaga bertanya, “Siapa itu?” “Jibril”, jawabnya. “Siapa yang bersamamu?” tanya penjaga. Jibril menjawab, “Muhammad.” “Apakah ia diutus kepada-Nya?” tanyanya lagi. “Iya”, jawab Jibril. Penjaga itu berkata, “Selamat datang. Sebaik-baik orang yang datang telah tiba.”

Saat aku telah melewati pintu, aku berjumpa dengan Musa. Jibril berkata, “Ini Musa, ucapkanlah salam padanya.” Kuucapkan salam padanya. Ia menjawab salamku dan berkata, “Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.”

Setelah aku melewatinya, ia menangis. Ditanyakan kepadanya, “Apa yang membuat Anda menangis?” Musa menjawab, “Aku menangis karena seorang pemuda yang diutus setelahku, umatnya yang masuk surga lebih banyak dibanding umatku yang memasukinya.”

Dalam riwayat Muslim dari Anas bin Malik bin Sha’sha’ah radhiallahu ‘anhuma kembali ditekankan tentang pertemuan Nabi Muhammad dengan Nabi musa di langit keenam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثُمَّ انْطَلَقْنَا حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ، فَأَتَيْتُ عَلَى مُوسَى عليه السلام، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، فَقَالَ: مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِيِّ الصَّالِحِ. فَلَمَّا جَاوَزْتُهُ بَكَى، فَنُودِيَ: مَا يُبْكِيكَ؟ قَالَ: رَبِّ، هَذَا غُلاَمٌ بَعَثْتَهُ بَعْدِي يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِهِ الجَنَّةَ أَكْثَرُ مِمَّا يَدْخُلُ مِنْ أُمَّتِي

Kemudian kami beranjak menuju langit keenam. Aku bertemu dengan Musa ‘alaihissalam. Kuucapkan salam padanya. Ia pun membalas salamku. Ia berkata, “Selamat datang saudara yang shaleh dan nabi yang shaleh.”

Tatkala aku melewatinya, ia menangis. Kemudian ada yang berseru, “Apa yang membuatmu menangis?” Musa berkata, “Rabbku, pemuda yang engkau utus setelahku ini, umatnya yang masuk surga lebih banyak dari umatku yang memasukinya.” (HR. Muslim dalam Kitab al-Iman, No: 164).

Dalam riwayat lain, terdapat informasi yang kontradiktif dengan riwayat di atas. Dari Anas bin Malik dari Abu Dzar al-Ghifari radhiallahu ‘anhuma, Anas berkata -setelah ia menyebutkan para nabi dalam penyebutan yang global tanpa urut-,

وَلَمْ يُثْبِتْ كَيْفَ مَنَازِلُهُمْ غَيْرَ أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ وَجَدَ آدَمَ فِي السَّمَاءِ الدُّنْيَا وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّمَاءِ السَّادِسَ

“Tidak diterangkan bagaiman kedudukan mereka. Hanya saja disebutkan Adam berada di langit dunia (langit pertama) dan Ibrahim berada di langit keenam.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab ash-Shalah, No: 342 dan Muslim dalam Kitab al-Iman, No: 163).

Di riwayat yang lain, dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata,

.. كُلُّ سَمَاءٍ فِيهَا أَنْبِيَاءُ قَدْ سَمَّاهُمْ، فَأَوْعَيْتُ مِنْهُمْ إِدْرِيسَ فِي الثَّانِيَةِ، وَهَارُونَ فِي الرَّابِعَةِ، وَآخَرَ فِي الخَامِسَةِ لَمْ أَحْفَظِ اسْمَهُ، وَإِبْرَاهِيمَ فِي السَّادِسَةِ، وَمُوسَى فِي السَّابِعَةِ بِتَفْضِيلِ كَلاَمِ اللهِ، فَقَالَ مُوسَى: رَبِّ لَمْ أَظُنَّ أَنْ يُرْفَعَ عَلَيَّ أَحَدٌ

“Di setiap langit terdapat nabi-nabi yang telah disebutkan. Yang kuhafal, Idris berada di langit kedua. Harun di langit keempat. Aku lupa siapa yang berada di langit kelima. Ibrahim berada di langit keenam. Dan Musa berada di langit ketujuh. Hal itu dengan fadilah dari kalam Allah. Musa berkata, ‘Rabbku, aku tak mengira kalau tak ada seorang pun yang lebih tinggi dariku’.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab at-Tauhid, No: 7079).

Di riwayat terakhir ini terdapat sedikit kerancuan. Seakan kita dapati Anas bin Malik lupa. Ia menyebutkan Idris berada di langit kedua dan Harun berada di langit keempat. Tentu ini berbeda dengan riwayat yang populer. Penyebutan Nabi Ibrahim berada di langit keenam dan Nabi Musa di langit ketujuh juga tidak tepat.

Mungkin kesalahan ini terjadi pada periwayat. Tapi terkadang ucapan para sahabat juga terdiri dari dua riwayat yang berbeda. Yang jelas, dua riwayat ini kontradiktif. Kemungkinan hanya satu yang benar. Atau keduanya bisa dikompromikan dengan penjelasan yang menenangkan pembaca. Mayoritas ulama berpendapat bahwa Musa berada di langit keenam. Dan Ibrahim ‘alaihissalam berada di langit ketujuh.

Menurut Raghib as-Sirjani, Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Musa di langit keenam. Kemudian terjadilah dialog antara keduanya. Setelah itu, beliau naik ke langkit ketujuh. Terjadilah peristiwa berbeda. Peristiwa penting yang juga menuntut akan kehadiran Musa di sana. Tentang Nabi Ibrahim, beliau adalah seorang pemimpin. Ayahnya para nabi. Sehingga kedudukan beliau berada di langit ketujuh. Tapi, tidak menutup kemungkinan beliau turun ke langit keenam dalam rangka menemui Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau kembali ke langit ketujuh. Atau periwayat yang menyatakan beliau berada di langit keenam adalah kekeliruan.

Dengan demikian, kita berpegang pada riwayat bahwa Nabi Muhammad berjumpa dengan Nabi Musa di langit keenam. Dalam perjumpaan tersebut Musa putra Imran ini menangis. Mengapa beliau menangis?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisahkan,

فَلَمَّا تَجَاوَزْتُ بَكَى، قِيلَ لَهُ: مَا يُبْكِيكَ؟ قَالَ: أَبْكِي لأَنَّ غُلاَمًا بُعِثَ بَعْدِي يَدْخُلُ الجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِهِ أَكْثَرُ مِمَّنْ يَدْخُلُهَا مِنْ أُمَّتِي”.

“Ketika aku melewati Musa, ia menangis. Ia ditanya, ‘Apa yang membuatmu menangis?’ ‘Aku menangis karena umat pemuda yang diutus setelahku ini masuk surga lebih banyak dari umatku’.”

Jangan sampai kita berkesimpulan Nabi Musa iri kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Musa adalah seorang nabi yang mulia. Seorang ulul azhmi. Dan seorang yang ma’shum. Bahkan beliau penuh kasih sayang dan perhatian beliau terhadap umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Terlihat bagaimana beliau meminta agar jumlah shalat dikurangi dari 50 waktu hingga menjadi 5 waktu sehari semalam. Tangisan beliau hanyalah karena betapa sayang dan betapa inginnya beliau agar Bani Israil, umatnya, mendapat kebaikan. Beliau bersedih karena umatnya mendustakan ayat-ayat allah Ta’ala. Padahal kebersamaan dia dengan umatnya terbilang lama. Upaya yang ia dan saudaranya, Harun, untuk menyelamatkan mereka adalah upaya yang luar biasa.

Adapun kata ghulam (anak muda) yang beliau ucapkan bukan pula dalam rangka meremehkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hal itu semata-mata ungkapan bahwa Nabi Muhammad lebih muda dari beliau. Dan beliau adalah nabi terdahulu.

Jika kita bandingkan umur Nabi Muhammad dengan Nabi Nuh, Ibrahim, dan Musa, kita sadar kalau umur Nabi kita jauh dibawah umur nabi-nabi tersebut. Bersamaan dengan mudanya dan pendeknya usia beliau, Allah berikan sesuatu yang tidak didapatkan nabi-nabi yang berusia lebih panjang dari beliau. Al-Khattabi mengatakan,

الْعَرَبُ تُسَمِّي الرَّجُلَ الْمُسْتَجْمِعَ السِّنَّ غُلاَمًا مَا دَامَتْ فِيهِ بَقِيَّةٌ مِنَ الْقُوَّةِ

“Orang Arab menyebut seseorang yang dewasa sebagai pemuda. Selama ia masih memiliki sisa-sisa tenaga.” (al-Khattabi dalam A’lam al-Hadits fi Syarhi Shahih al-Bukhari, 3/1480).

Ibnu Hajar mengatakan,

وَيَظْهَرُ لِي أَنَّ مُوسَى عليه السلام أَشَارَ إِلَى مَا أَنْعَمَ اللهُ بِهِ عَلَى نَبِيِّنَا عَلَيْهِمَا الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ مِنِ اسْتِمْرَارِ الْقُوَّةِ فِي الْكُهُولِيَّةِ، وَإِلَى أَنْ دَخَلَ فِي سِنِّ الشَّيْخُوخَةِ وَلَمْ يَدْخُلْ عَلَى بَدَنِهِ هَرَمٌ، وَلاَ اعْتَرَى قُوَّتَهُ نَقْصٌ؛ حَتَّى إِنَّ النَّاسَ فِي قُدُومِهِ الْمَدِينَةَ مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ لَمَّا رَأَوْهُ مُرْدِفًا أَبَا بَكْرٍ أَطْلَقُوا عَلَيْهِ اسْمَ الشَّابِّ وَعَلَى أَبِي بَكْرٍ اسْمَ الشَّيْخِ، مَعَ كَوْنِهِ فِي الْعُمْرِ أَسَنَّ مِنْ أَبِي بَكْرٍ، وَاللهُ أَعْلَمُ

“Menurutku, Musa ‘alaihissalam mengarahkan pembicaraan pada nikmat Allah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa langgengnya kebugaran fisik manusia di usia 30-50 tahun. Walaupun beliau sampai di usia sepuh, kondisi fisik beliau tidak jompo. Tidak mengalami kemunduran kebugaran fisik. Dalam sebuah peristiwa yang diriwayatkan oleh Anas, ada seseorang yang datang ke Madinah. Ketika ia melihat Nabi membonceng Abu Bakar, ia sebut nabi sebagai pemuda dan Abu Bakar sebagai syaikh (orang yang tua). Padahal beliau lebih berumur dibanding Abu Bakar. Allahu a’lam.” (Ibnu Hajar dalam Fath al-Bari, 7/212).

Dari sini dapat kita pahami, Nabi Musa tidak sama sekali mengecilkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menghormati dan mengagungkan Nabi Muhammad. Dan Nabi Musa tahu persis kedudukan para nabi itu seperti apa.

Ciri Fisik Nabi Musa

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan kepada kita tentang ciri fisik Rasulullah Musa ‘alaihissalam. Hal ini penting, karena nama beliau sangat banyak disebut dalam Alquran. Sehingga ketika mengenali fisik Nabi Musa, bertambahlah tadabbur kita tentang kisah-kisah tentang beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“لَقِيتُ مُوسَى”. قَالَ: فَنَعَتَهُ: “فَإِذَا رَجُلٌ -حَسِبْتُهُ قَالَ- مُضْطَرِبٌ، رَجِلُ الرَّأْسِ، كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ

“Aku bertemu Musa.” Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mensifatinya dengan mengatakan bahwa “Ia adalah pria yang tidak gemuk. Berambut antara lurus dan keriting serta terlihat begitu gagah. Seperti seorang laki-laki dari Syanu-ah.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab al-Anbiya, 3254 dan Muslim dalam Kitab al-Iman, 168).

Beliau menyebut Nabi Musa sebagai seseorang yang tidak gemuk (tinggi ramping). Rambutnya tidak keriting padat. Juga tidak lurus jatuh. Rambut beliau bergelombang. Istilah syanu-ah (Arab: شَنُوءَةَ) adalah nama sebuah kabilah Arab yang masyhur. Mereka memiliki karakter fisik seperti fisiknya Nabi Musa. Beliau memberi permisalan agar mudah dipahami para sahabat. Dalam riwayat lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأَيْتُ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي مُوسَى رَجُلاً آدَمَ طُوَالاً جَعْدًا كَأَنَّهُ مِنْ رِجَالِ شَنُوءَةَ

“Di malam aku dimi’rajkan, aku berjumpa dengan Musa. Seorang laki-laki berkulit sawo matang. Berperawakan tinggi. Rambutnya ikal. Beliau seperti seorang laki-laki Syanu-ah.” (HR. al-Bukhari dalam Kitab Bad-u al-Khalqi, 3067).

Dari sifat fisik beliau, kita paham bahwa beliau seorang yang kuat. Seorang pemimpin yang berwibawa. Dan demikianlah Allah Ta’ala mengisahkan seorang perempuan yang menyebut Nabi Musa dengan laki-laki yang kuat.

إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الأَمِينُ

“Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya.” [Quran Al-Qashash: 26].

Sumber:
https://islamstory.com/-الرسول-في-السماء-السادسة

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here